Tampilkan postingan dengan label Lada. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lada. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Oktober 2017

Cara Menanam Lada Perdu Diperkarangan Rumah

cara tanam lada perdu dipekarangan

Penanaman lada perdu diawali dengan penyediaan benih.   Benih lada perdu berasal dari setek cabang primer dan sekunder atau pun cabang primer yang menyertakan sulur panjar (setek bertapak).   Bahan benih tersebut disemai pada media semai dalam polybag yang berisi tanah top soil, pupuk kandang dan pasir (7:3:1)  sampai dengan perkaran tanaman tumbuh baik dan kuat untuk dipindahkan atau kurang lebih selama 3-4 bulan.  Untuk merangsang pertumbuhan akat dapat digunakan zat pengatur tumbuh (ZPT), air gula atau air kelapa.

Penanaman lada di pekarangan rumah dapat dilakuan dengan menanam langsung disekitar pekarangan atau di dalam pot.  Penanaman lada di pekarangan dengan cara membuat lubang tanam berukuran 60 x 40 x40 cm. Untuk meningkatkan kesuburan tanah, di dalam lubang tanam diberikan pupuk kandang sebanyak 10 kg, kapur 0,5 kg, pupuk NPKMg (12:12:17:2) 20 g. Penanaman dilakukan setelah dua minggu pemberian pupuk dasar. Jika ditanam dalam pot, gunakan pot berukuran 40 x 50 cm denga media terdiri atas tanah top soil, pupuk kandang dan pasir (7:3:1).

Untuk optimalisasi pertumbuhan tanaman lada, maka dilakukan pemupukan secara teratur. Pupuk yang digunakan meliputi pupuk kandang sebanyak 5 kg yang diberikan setiap tahun, sedangkan pupuk anorganik berupa NPKMg dengan dosis pada tahun pertama 50 g, tahun kedua 100 g dan tahun ketiga 200 g, frekuensi pemberian 4 kali setahun.
Percabangan lada perdu yang rimbun menyebabkan tanaman sangat rentan dengan serangan penyakit, terutama jamur (P. Capsici) karena kelembaban udara disekitar pangkat tanaman cukup tinggi.   Untuk mengatasi hal tersebut dapat dilakukan dengan membuat penyangga dari kayu menyerupai para-para.

Untuk mengendalikan serangan hama penyakit menggunakan biopestisida atau agensi hayati. Penyakit utama lada terdiri atas penyakit busuk pangkal batang (BPB) penyakit kuning, penyakit keriting, dan beberapa hama yang menyerang bunga dan buah lada.  Pengendalian hama penyakit utama dilakukan secara kultur teknik dan pestisida atau agensi hayati.  Agensi hayati yang digunakan seperti bakteri Pasteuria penetrans untuk pengendalian penyakit kuning, jamur Trichoderma harzianum untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang, jamur Beuveria bassiana mengendalikan hama walang sangit.  Jenis pestisida nabati untuk mengendalikan hama tanaman lada antara lain ekstrak biji bengkuang, tepung cengkeh atau ekstrak akar tuba.
Panen dapat dilakukan 12 bulan setelah penanaman, namun ada baiknya pada saat umur tersebut bunga dan buah yang terbentuk dibuang agar pertumbuhan tanaman lebih baik. Jumlah produksi tanaman pada umur 2 tahun dan 3 tahun masing-masing sebanyak 200 g/tanaman dan 500 g/tanaman lada kering.

Gunakan pupuk cair pelengkap Nutrifarm AG dan perekat pupuk APSA-800WSC Amway, agar tanaman lada Anda lebih subur dan terhindar dari hama.

Petunjuk penyemprotan Nutrifarm AG dan APSA-800WSC pada tanaman perkarangan dan Taman.

Cara Pemakaian pupuk Nutrifarm AG dan perekat APSA

1. Gunakan semprotan kecil yang berkapasitas 1 liter.
2. Larutkan 5ml Nutrifarm AG (1 sendok makan)
3. Tambahkan 5 tetes APSA (gunakan pipet)
4. Semprotkan pada daun tanaman
5. Penyemprotan cukup 2 minggu sekali.

Kamis, 03 November 2016

Cara Budidaya Lada Bangka

 

Budidaya Lada Bangka

Sebelum memulai budidaya lada Bangka, ada baiknya terlebih dahulu kita harus mengenali karakteristik tanaman yang satu ini dengan baik, agar dapat melakukan penanaman dan perawatan yang sesuai, sehingga hasil yang didapat sesuai dengan yang diharapkan. Berikut beberapa cara atau teknik budidaya tanaman lada yang bisa dicoba.

Kondisi Alam

Lada bisa tumbuh dengan baik, kalau memenuhi syarat dibawah ini :
1. Iklim
  • Curah hujan 2.000-3.000 mm/th.
  • Cukup sinar matahari (10 jam sehari).
  • Suhu udara 200C – 34 0C.
  • Kelembaban udara 50% – 100% lengas nisbi dan optimal antara 60% – 80% RH.
  • Terlindung dari tiupan angin yang terlalu kencang.
2. Media Tanam
  • Subur dan kaya bahan organik
  • Tidak tergenang atau terlalu kering
  • pH tanah 5,5-7,0
  • Warna tanah merah sampai merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol dan Utisol.
  • Kandungan humus tanah sedalam 1-2,5 m.
  • Kemiringan lahan maksimal ± 300.
  • Ketinggian tempat 300-1.100 m dpl.

Cara Budidaya

1. Pembibitan
  • Terjamin kemurnian jenis bibitnya
  • Berasal dari pohon induk yang sehat
  • Bebas dari hama dan penyakit
  • Berasal dari kebun induk produksi yang sudah berumur 10 bulan-3 tahun (Kebutuhan bibit ± 2.000 bibit tanaman perhektar)

2. Pengolahan Media Tanam
  • Pembalikan tanah sedalam 20-30 cm.
  • Taburkan kapur pertanian dan diamkan 3-4 minggu. 
Dosis kapur pertanian :
  • Pasir dan Lempung berpasir: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha.
  • Lempung: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 1,7 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 0,9 ton/ha.
  • Lempung Berdebu: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 2,6 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 3,2 ton/ha.
  • Lempung Liat: pH Tanah 3,5 ke 4,5 = 0,6 ton/ha; pH Tanah 4,5 ke 5,5 = 3,4 ton/ha; pH Tanah ke 6,5 = 4,2 ton/ha. Cangkul 2, haluskan dan ratakan tanah
3. Teknik Penanaman
  • Sistem penanaman adalah monokultur (jarak tanam 2m x 2m). Tetapi juga bisa ditanam dengan tanaman lain.
  • Lubang tanam dibuat limas ukuran atas 40 cm x 35 cm, bawah 40 cm x 15 cm dan kedalaman 50 cm.
  • Biarkan lubang tanam 10-15 hari barulah bibit ditanam.
  • Waktu penanaman sebaiknya musim penghujan atau peralihan dari musim kemarau kemusim hujan, pukul 6.30 pagi atau 16.30-18.00 sore.

Cara penanaman :
  • menghadapkan bagian yang ditumbuhi akar lekat kebawah, sedangkan bagian belakang (yang tidak ditumbuhi akar lekat) menghadap keatas.
  • Taburkan pupuk kandang 0,75-100 gram
  • Tutup lubang tanam dengan tanah galian bagian atas yang sudah dicampur pupuk dasar : NPK 20 gram/tanaman. Untuk tanah kurang subur ditambahkan 10 gram urea, 7 gram SP 36 dan 5 gram KCl per tanaman. 
Pemeliharaan Tanaman Lada
  1. Pengikatan Sulur Panjat Panjatkan pada tiang panjat menggunakan tali. Ikatkan dengan dipilin dan dilipat hingga mudah lepas bila sulur tumbuh besar dan akar lekatnya sudah melekat pada tiang panjat.
  2. Penyiangan dan Pembumbunan Penyiangan setiap 2-3 bulan sekali. Pembubunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan.
  3. Pemangkasan dilakukan pada: Batang, dahan, ranting yang tidak produktif, atau terserang hama dan penyakit. Pucuk/batang, karena tidak memiliki dahan yang produktif. Batang yang sudah tua agar meremajakan tanaman menjadi muda kembali.
  4. Pemupukan Susulan Penyemprotan 
  5. Pengairan dan Penyiraman Pada musim kemarau penyiraman sehari sekali di sore hari. 
  6. Pada musim hujan tidak boleh tergenang.
  7. Pemberian Mulsa Usia 3-5 bulan, beri mulsa alami berupa dedaunan tanaman tahunan ataupun alang-alang.
  8. Pemasangan tian panjat, sebaiknya gunakan tiang panjat mati dari bahan kayu. 
Hama dan penyakit lada

1. Hama
  • Hama Penggerek Batang (Laphobaris Piperis) Ciri: berwarna hitam, ukuran 3-5 mm. Serangga dewasa lebih suka menyerang bunga, pucuk daun dan cabang-cabang muda. Akibat lain bila Nimfanya (serangga muda) berupa ulat akan menggerek batang dan cabang tanaman. Pengendalian: memotong cabang batang; penyemprotan Anti hama.
  • Hama bunga Ciri: Serangga dewasa berwarna hitam, sayap seperti jala, terdapat tonjolan pada punggungnya, ukuran panjang tubuh 4,5 mm dan lebar 3 mm. Gejala: serangga dewasa/nimfanya menyerang bunga berakibat bunga rusak dan menimbulkan kegagalan pembuahan, siklus hidupnya sekitar 1 bulan. Pengendalian: penyemprotan anti serangga, serta dapat juga dilakukan pemotongan pada tandan bunga.
  • Hama buah Ciri: serangga berwarna hijau kecoklatan, nimfanya tidak bersayap, berwarna bening dan empat kali ganti kulit. Serangga dewasa atau nimfanya menyerang buah sehingga isi buah kosong. Telurnya biasa diletakkan pada permukaan daun atau pada tandan buah, siklus hidupnya sekitar 6 bulan. Pengendalian: musnahkan telur dipermukaan daun, cabang, dan yang ada pada tandan buah.
2. Penyakit
  • Penyakit busuk pangkal batang (BPP) Penyebab: jamur Phytopthora Palmivora Var Piperis. Gejala: awal serangan sulit diketahui. Bagian yang mulai terserang pada pangkal batang memperlihatkan garis-garis coklat kehitaman dibawah kulit batang. Daun berubah warna menjadi layu (berwarna kuning). Pencegahan : penanaman jenis lada tahan penyakit BPB. 
  • Penyakit kuning Penyebab: tidak terpenuhinya berbagai persyaratan agronomis serta serangan cacing halus (Nematoda) Radhophalus similis yang mungkin berasosiasi dengan nematoda lain seperti Heterodera SP, M incognita dan Rotylenchus Similis. Gejala: menyerang akar tanaman lada, ditandai menguningnya daun lada, akar rambut mati, membusuk dan berwarna hitam. Cepat lambatnya gejala daun menguning tergantung berat ringannya infeksi dan kesuburan tanaman. Pengendalian: Pemberian pupuk kandang, pengapuran, pemupukan tepat dan seimbang.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata APSA-800 WSC.

PANEN
  1. Ciri dan Umur Panen, panen pertama umur tiga tahun atau kurang. Ciri-ciri: tangkainya berubah agak kuning dan sudah ada buah yang masak (berwarna kuning atau merah).
  2. Cara panen pemetikan dari buah bagian bawah hingga buah bagian atas, dengan mematahkan persendian tangkai buah yang ada diketiak dahan.
  3. Periode Panen Periode panen sesuai iklim setempat, jenis lada yang ditanam dan intensitas pemeliharaan.


Cara Budidaya Lada Perdu

 

Lada Perdu

Selama ini kita hanya mengenal pembudidayaan tanaman lada dilakukan dengan bahan tanaman yang berasal dari sulur panjat dimana penanamannya harus menggunakan tiang panjat.  Kelemahan menggunakan bibit yang berasal dari sulur panjat ini adalah mulai sulitnya memperoleh tiang panjat mati yang tahan lama di samping harga nya yang mulai mahal .  Kalau kita menggunakan tiang panjat hidup menyebabkan adanya persaingan cahaya, hara air dan CO2.

Lada perdu diharapkan dapat menekan biaya produksi karena tanaman lada perdu ini memiliki beberapa keunggulan yaitu :
  • tidak memerlukan tiang panjat
  • berproduksi lebih awal
  • pemeliharaan dan panen lebih mudah
  • bisa tumpang sari dengan tanaman tahunan lainnya.
KEUNGGULAN BUDIDAYA LADA PERDU

Selama ini pembudidayaan lada di Indonesia dikembangkan dari tanaman yang berasal dari sulur panjat sehingga penanamannya harus menggunakan tiang panjat. Pada dekade terakhir ini ketersediaan tiang panjat mati yang tahan lama cenderung semakin sulit dan mahal. Sedangkan tiang panjat hidup dapat digunakan akan tetapi produktivitasnya rendah akibat kompetisi hara dan rendahnya intensitas radiasi surya karena tingkat naungan yang tinggi dari pohon penegak hidup (Wahid, 1984). Oleh karena itu efisiensi usaha tani lada Indonesia perlu ditingkatkan agar memiliki daya saing yang tinggi dan lebih meningkatkan pendapatan Petani.

Lada perdu yang diperbanyak dari cabang primer, sekunder dan bertapak dari tanaman lada (Syakir, et al., 1994) dapat memecahkan masalah ini karena lada perdu membutuhkan biaya produksi lebih rendah sebab tidak memerlukan pohon penegak, pemeliharaan dan panen yang lebih mudah (Syakir dan Zaubin, 1994). Keuntungan lain adalah populasi per satuan luas lebih banyak, berproduksi lebih awal dan dapat ditanam secara multiple cropping (tumpang sari) dan intercropping (tanaman sela) di antar tanaman kelapa atau tanaman tahunan lainnya.

PERSIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN LADA PERDU

Jenis Lahan

Lada perdu diperoleh dari perbanyakan vegetatif dengan setek cabang buah yang memiliki sistem “Sympodial” dan tumbuh mendatar berbentuk perdu.

Setek cabang buah dapat disiapkan dalam 2 bentuk, yaitu :
  • Setek bertapak, yaitu setek cabang yang menyertakan sulur panjat. Setek cabang yaitu setek cabang buah primer dan sekunder.  Cabang primer adalah cabang yang keluar dari sulur panjat, sedang cabang buah, pertumbuhan akar dan tunas lebih sulit dan lama sehingga waktu di pembibitan lebih lama.
Sebaiknya dua minggu sebelum pengambilan setek cabang buah, pohon induknya dipupuk 750 NPK Mg dengan perbandingan : 12 – 12 – 17 – 2  dan pengambilan setek jam 11. 00 – 12.00 WIB merupakan waktu yang paling baik terhadap pertumbuhan akar dan tunas bahan tanaman (Syakir, et.al., 1994)

Bagian cabang buah yang digunakan sebagai bahan setek sebaiknya umurnya tidak terlalu tua karena makin tua umur bahan setek makin berkurang daya perakarannya, sebaliknya apabila bahan setek yang sangat muda dan lemah maka proses transpirasi akan berlangsung cepat sehingga setek akan menjadi lemah, layu dan akhirnya mati.

Lada perdu dapat diperbanyak dengan 2 cara berdasarkan sumber bahan tanaman, yaitu sebagai berikut :

Setek Cabang Bertapak
Cara setek cabang bertapak yaitu pembuatan setek dengan menggunakan setek cabang primer dengan 3 – 4 daun dan menyertakan satu buku sulur panjat.  Tunas tidur dan daun penumpu yang ada pada buku sulur panjat harus dipotong dan dibuang agar tidak terbentuk lagi sulur panjat.
Perbanyakan dengan setek bertapak lebih mudah berhasil karena setek menyertakan satu sulur panjat pada pangkal setek.  Karena akar primordia sudah pada sulur panjat sebagai tapak, maka persentase hidup dari setek bertapak selalu tinggi.

Setek Cabang Buah
Setek cabang diperbanyak dari setek cabang sekunder yang dibuat dari cabang primer, sekunder dan tertier relatif sulit berakar dibanding setek cabang bertapak.  Hal ini disebabkan karena bagian buku dan ruas setek cabang primer, sekunder dan tertier tidak mempunyai primordia akar.  Setek cabang buah merupakan upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan tanaman.

PERLAKUAN PENDAHULUAN
Untuk memacu pertumbuhan dan memperkecil tingkat kematian setek lada perdu di pendederan perlu perlakuan pendahuluan yang tepat, pemilihan bahan anaman, perlakuan fisik dan penggunaan zat pengatur tumbuh.

Setek cabang buah sebaiknya memiliki 2 – 4 daun, bagian basal (± 5 cm ) diberi 3 – 4 kerataa melingkar dari bagian pangkal setek dipotong tepat di atas buku atau bagian interkalan
Selanjutnya bagian pangkal setek terutama bagian yang dikerat, dicelup selama 30 – 60 detik dalam 2 % H2SO4 lalu setek direndam dengan larutan IBA 2 % + sukrosa selama 4 jam.  Karena IBA dan zat pengatur tumbuh buatan menggunakan senyawa lain yang lebih murah dan penggunaannya mudah
Perendaman setek ke dalam larutan air kelapa dengan konsentrasi 25 % selama 1 jam ternyata dapat meningkatkan petumbuhan akar dan tunas setek cabang buah (Syakir, et al., 1993)

Pendederan

Sebaiknya dilakukan di bak /bedengan dengan ukuran 1 – 1.20 cm yang susunan medianya berturut-turut dari lapisan atas mulai dari pasir halus 0 – 20 ccm, ijuk ± 5 cm dan koral ± 5 cm agar tercipta draenase dan erosi yang baik.  Media perlu diberi perlakuan nematisida seperti Vapam, Basamid atau Shell DD.

Agar tercipta kondisi iklim mikro yang optimal yaitu kelembaban relatif udara > 80 % dan suhu udara ±28 °C perlu pembuatan rumah atap dari bahan daun rumbia atau paranet di atas bedengan. Selain itu perlu penggunaan sungkup dari kain blacu atau plastik bening.

Pendederan setek cabang buah bertapak dilakukan dengan menanam setek pada media pasir.  Bagian sulur panjat sebagai tapak yang panjangnya ± 3 – 5 cm, seluruhnya ditanam terbenam ke dalam pasir sampai bagian mata tidur.

Jarak tanam setek cabang buah di pendederan yaitu 10 – 15 cm antar baris dan 6 – 8 cm di dalam barisan.

Untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang optimal di pendederan maka setiap hari setek disiram air dan untukmenjamin kelembaban udara yang tinggi dalam sungkup perlu disemprot air menggunakan sprayer.  Hal ini dilakukan ± 6 – 8 minggu sampai keluar akar, apabila 10 – 12 minggu belum keluar tunas sebaiknya setek tidak digunakan

Pembibitan : dapat dilakukan langsung pada media tanah atau dalam polybag.  Akan tetapi cara yang praktis, efisien dan efektif adalah pembibitan langsung dalam polybag.  Syarat terpenting dari media adalah tidak cepat memadat, aerasi baik, media cukup mantap agar keadaan setek lada tidak banyak bergerak

PERSIAPAN LAHAN DAN PENANAMAN LADA PERDU

Persiapan lahan

4.1.1. Pembukaan lahan

Persiapan lahan untuk lada perdu secara monokultur.Lahan harus dibersihkan dari pepohonan, belukar, rumput dan alang-alang.Cara kimiawi dapat digunakan apabila diperlukan dan sebaiknya penyemprotan herbisida dilakukan pada musim kemarau

4.1.2. Pengolahan tanah, pengajiran dan jarak tanam

* Lahan dicangkul dengan kedalaman ± 20 cm

* Jarak tanam 1 m dalam barisan dan 1,5 – 2 m antar barisan

* Ukuran lubang tanam dengan panjang 40 cm, lebar 40 cm dan tinggi lubang 40 – 60 cm

* Lubang tanam dibiarkan 2 – 3 minggu dan lubang tanam ditutup dengan campuran tanah atasdan pupuk kandang sebanyak 5 – 10 kg/lubang

4.1.3. Penanaman

* Lada perdu dapat ditanam setelah hujan cukup

* Setelah bibit ditanam tanah di sekitarnya ditekan dan bibit diberi naungan untuk melindung dari keadaan yang tidak mnguntungkan.Bahan naungan yang dapat digunakan yaitu alang-alang, paku andan

* Areal sekitar kebun hendaknya dilengkapi dengan saluran pembuangan air

PEMELIHARAAN DAN PANEN
Pemeliharaan

  • Menyiang dan menggemburkan tanah, penyiangan dilakukan dengan tujuan membasmi gulma sehingga tidak ad persaiangan hara dan harus dilakukan terus menerus tergantung pada iklim dan pertumbuhan gulma. Konsep penyiangan adalah siang terbatas agar mencegah erosi permukaan tanah dan pengendalian penyakit. Bersamaan dengan tindakan penyiangan, tanah sekitar perakaran digemburkan dengan maksud adanya perbaikan aerasi/penyediaan 02 yang penting bagi pernapasan akar
  • Penggunaan mulsa, tujuan penggunaan mulsa sebagai tambahan organik, menekan pertumbuhan gulma, memperbaiki struktur tanah serta menekan fluktuasi derajat lembab dan suhu tanah. Mulsa dihamparkan setebal ± 10 cm di sekitar tanaman sejauh 10 – 20 cm ari pokok batang, dengan bahan seperti jerami, semak belukar atau alang-alang. Pemasangan dapat dilakukan 1 atau 2 kali pada awal dan pertengahan musim kemarau.
  • Pemupukan, pemberian pupuk 5 – 10 dan mulsa dilakukan setiap awal musim kemarau. Pupuk anorganik NPKMg : 12 – 12 – 17 – 2  dapat diramu yaitu Urea, TSP, KCl dan Kiserite  yang diberikan awal musim hujan.  Pemupukan ke 2, 3 dan empat dilakukan selang 40 hari selama musim hujan.
  • Pencegahan dan Pemberantasan hama penyakit, hama yang paling banyak merugikan adalah Penggerek batang (Lophobaris spp.), Pengisap bunga (Diconocoris hewetti) dan Penghisap buah (Dasynus piperis). Pengendalian secara mekanis yaitu secara rutin mengontrol kebun dan membuang/memangkas bagian-bagian tanaman yang terinfeksi hama. Penggunaan insektisida adalah sebagai jalan terakhir. Pada lada 3 penyakit berbahaya yang sering menyerang adalah penyakit kerdil, penyakit kuning dan penyakit busuk pangkal batang

Panen

Bunga yang terbentuk selama ± 12 bulan pertama sebaiknya dibuang.  Pada tahun ke 2 bunga dan buah dibiarkan karena tanaman sudah cukup rimbun.
Mulai keluarnya bunga sampai buah masak dan berwarna merah tua dibutuhkan waktu ± 9 bulan

 Panen dilakukan beberapa kali selama musim kemarau.  Pengolahan pasca panen dapat dijadikan lada hitam seperti di Lampung ataupun lada putih seperti di Bangka.


Sumber:  Set. BKP3K Prov. Kep. Bangka Belitung 
Sumber gambar : Balitri